Navigation

GSMS 2026: Pemerintah Belajar Bicara ke Generasi yang Tidak Percaya Rilis Pers

10 Jun 2026 Dimas Tarich W

Selasa pagi di fX Sudirman, praktisi humas pemerintah berkumpul di Garuda Spark Innovation Hub untuk satu agenda yang terdengar sederhana: belajar berkomunikasi di era yang sudah tidak menunggu siaran pers.

GSMS 2026 sudah memasuki tahun ketujuh. Tapi tahun ini terasa berbeda nadanya. Bukan soal siapa yang hadir, bukan soal award-nya. Yang berbeda adalah soal yang diangkat ke permukaan: bahwa ada entitas-entitas media yang tidak punya kantor, tidak punya redaktur, tidak punya struktur, tapi punya pengaruh yang nyata atas kepercayaan publik.

Aqsath Rasyid Naradhipa, CEO NoLimit Indonesia, menyebutnya homeless media.

“Entitas media nonkonvensional ini berkembang pesat karena berhasil mengisi kekosongan sudut pandang, khususnya bagi demografi muda yang cenderung lebih menyukai informasi yang terdesentralisasi dan ringkas dibanding format berita tradisional,” kata Aqsath.

Bukan tuduhan. Lebih ke pengakuan jujur tentang kondisi lapangan yang sudah lama ada, tapi jarang diakui di forum pemerintah.

Kemitraan, Bukan Persaingan

Yang menarik dari framing Aqsath: dia tidak menyebut homeless media sebagai ancaman. Justru sebaliknya. Menurutnya, pemerintah perlu membangun pola kemitraan yang sehat dengan ekosistem media modern ini agar diskursus publik semakin kaya, bukan semakin terpolarisasi.

Karina Kusumawardani, Dewan Pembina GSMS, datang dengan perspektif yang lebih operasional. Instansi pemerintah perlu lincah, katanya. Rilis pers, konten media sosial dinamis, sosialisasi tatap muka, semuanya harus berjalan bersamaan, bukan bergantian.

“Inovasi komunikasi ini krusial untuk menciptakan respons yang adaptif dan mendongkrak keterlibatan masyarakat secara organik,” ungkap Karina.

Kedengarannya seperti tuntutan yang besar. Tapi data dari GSM Award tahun ini membuktikan ada instansi yang sudah berhasil melakukannya.

16 Nama, Satu Metode

GSM Award 2026 mengumumkan 16 pemenang dari empat klaster: kementerian, lembaga, pemerintah provinsi, dan perguruan tinggi negeri. Empat kategori: Most Engaging, Best Use of Image, Best Use of Video, dan Best Account.

Tidak ada formulir pendaftaran. Tidak ada proses lobi. Pemenang ditentukan dari pelacakan data analitik selama satu tahun penuh, kemudian divalidasi dewan juri profesional.

Beberapa nama yang menonjol: Kementerian Sosial di Most Engaging kementerian. Kepolisian RI di klaster lembaga. ITB untuk PTN. Tapi nama yang paling konsisten siang itu adalah DI Yogyakarta, yang menyapu bersih seluruh kategori di klaster pemerintah provinsi: Most Engaging, Best Use of Image, Best Use of Video, sekaligus Best Account.

Pemenang kategori Best Account:

  • Kementerian: Kemendikti Saintek
  • Klaster PTN: UGM
  • Lembaga Negara: DPR RI

BP2MI menang Best Use of Image. KPK menang Best Use of Video. Universitas Udayana dan Universitas Negeri Semarang masing-masing meraih penghargaan di kategori visual.

GSMS sendiri diselenggarakan oleh Awrago dan NoLimit Indonesia, dua nama yang sudah menggelar forum ini sejak 2019, dengan dukungan Iprahumas yang ikut kembali tahun ini.

Satu hal yang jelas dari data pemenang: konsistensi mengalahkan viralitas. DI Yogyakarta tidak menang karena satu konten yang meledak. Mereka menang di semua lini, selama setahun penuh.

Dimas Tarich W

Web Developer & Digital Marketing Enthusiast