NoLimit Indsight: Varian Omicron dan Dampaknya Terhadap Kehidupan Masyarakat

412
0

Di bulan Februari 2022 ini, NoLimit Indonesia kembali merilis laporan NoLimit Indsight dengan fokus varian virus Omicron serta bagaimana kehadirannya mempengaruhi kehidupan masyarakat.

Seperti yang kita ketahui, sejak kuartal 4 tahun 2021 seluruh dunia dihebohkan dengan kemunculan Omicron, varian virus Covid-19 terbaru. Varian ini disinyalir memiliki penyebaran yang lebih cepat dibandingkan varian sebelumnya.

Laporan analisis ini dibuat dengan menggunakan data-data dari platform media sosial Twitter yang ditarik dan diolah menggunakan NoLimit Dashboard, dengan beberapa kata kunci yakni Covid, Omicron, dan Vaksin. Periode penarikan data dilakukan dari 1 November 2021 sampai 30 Januari 2022.

Perbincangan seputar varian Omicron dan Covid-19

Berdasarkan kata kunci yang kami pantau di media sosial yakni Covid, Omicron, dan Vaksin dengan tanggal penarikan dari 1 November 2021 sampai dengan 30 Januari 2022, terdapat 1.561.887 perbincangan yang melibatkan 953.513 pembicara.Varian Covid-19 yang lebih banyak dibicarakan adalah varian lain selain Omicron dengan share of voice sebanyak 84%.

Selama periode pemantauan, perbincangan terkait varian Omicron dan varian Covid-19 lain cenderung meningkat, dengan fokus isu yang berubah-ubah.

Pergerakan perbincangan terkait Omicron dibandingkan dengan varian Covid-19 beserta dengan isu yang muncul (sumber: NoLimit Dashboard)

Isu yang paling banyak diperbincangkan selama periode ini adalah kasus Covid-19 yang terus meningkat. Isu ini diperbincangkan pada akhir Januari 2022.

Dampak Omicron terhadap kehidupan masyarakat

Fenomena pandemi yang terjadi secara global ini tentu tidak terlepas dari pandangan dan opini masyarakat. Pemantauan yang dilakukan oleh NoLimit menunjukkan bahwa terdapat 24.032 perbincangan yang menyatakan bahwa masyarakat khawatir mobilitas di luar rumah akan kembali dibatasi dengan hadirnya varian Omicron ini.

Persepsi dan tanggapan masyarakat terkait varian Omicron (sumber: NoLimit Dashboard)

Salah satu cuitan warganet yang menyatakan kekhawatiran akan dibatasi kembalinya mobilitas di luar rumah adalah dari warganet bernama Tomi Purba berikutini.

Selain itu, ada juga masyarakat yang menyatakan takut tertular, banyak menyerang anak-anak, PTM masih 100% walau ada peningkatan kasus Omicron, sulit melakukan ibadah puasa dan merayakan Idul Fitri, serta dinilai hanya sebatas mitos atau pengalihan isu.

Masyarakat menilai bahwa dampak yang paling jelas dari adanya Omicron ini adalah penutupan sekolah karena terdeteksinya kasus Omicron. Hingga saat artikel ini ditulis, di beberapa sekolah pembelajaran masih dilakukan dengan sistem PTM, baik itu 100% maupun hybrid. Terpantau terdapat 21.900 perbincangan yang menyatakan kekhawatiran terkait penutupan sekolah.

Dampak lain dari Omicron yang dibahas oleh warganet adalah diterapkannya kembali WFH oleh perkantoran sektor non-esensial, kesulitan mencari RS rujukan Covid, pendapatan UMKM menurun, serta terkena PHK.

Industri yang dianggap paling terdampak oleh varian Omicron (sumber: NoLimit Dashboard)

Dari berbagai Industri yang ada di Indonesia, industri yang dinilai paling terdampak oleh Omicron ini adalah industri pariwisata. Seperti yang kita ketahui, di awal pandemi pun industri pariwisata-lah yang paling banyak terdampak. Sebelum kehadiran Omicron ini, industri pariwisata dalam negeri dinilai sedang merangkak naik—walau tentu tidak sebaik sebelum pandemi. Dengan adanya varian Omicron ini tentu berpengaruh terhadap jumlah turis yang berkunjung ke tempat-tempat wisata, sehingga mengancam keberlangsungan industri pariwisata itu sendiri.

Industri lain yang terdampak oleh pandemi adalah ekonomi, penerbangan, dan kesehatan.

Selain itu, masyarakat juga memberikan opininya terkait siapa saja kalangan yang paling terdampak oleh varian Omicron ini.

Kalangan yang dianggap paling terdampak oleh hadirnya varian Omicron (sumber: NoLimit Dashboard)

Dari berbagai kalangan pekerja di Indonesia, yang dinilai paling mudah terdampak oleh Omicron adalah pedagang kecil dan pegawai kantoran. Alasannya, pemberlakuan kebijakan PPKM berlevel oleh pemerintah bisa memengaruhi pendapatan para pedagang kecil ini secara langsung, karena mobilitas yang dibatasi bisa mempengaruhi jumlah penjualan mereka. Sementara pegawai kantoran lebih dipengaruhi di sistem kerja WFH atau Work From Home, dimana sebelum adanya Omicron ini perkantoran sudah sedikit demi sedikit memberlakukan sistem kerja WFO atau Work From Office.

Kalangan lain yang terdampak oleh Omicron adalah kalangan guru (keresahan karena pembelajaran PTM), ojek online (berkurangnya penumpang), pelajar (kegiatan belajar mengajar kembali dilaksanakan secara daring), pengusaha (penurunan omset penjualan), serta sopir (resiko terpapar yang tinggi).

Ingin membaca full report NoLimit Indsight? Klik di sini, ya!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Newsletter

Jadilah bagian dari komunitas inspirasi kami! Bergabunglah dengan newsletter blog kami dan dapatkan konten menarik, tips bermanfaat, dan berbagai informasi terbaru.

Loading