Navigation

Sampah Tangsel Meluap: Social Listening Tangkap Gelombang Kritik Warga di Media Sosial

01 Jul 2026 hiday 34 views

NoLimit Indonesia – Pengelolaan sampah di Kota Tangerang Selatan (Tangsel) kembali memicu kegelisahan publik. Sejak akhir Desember 2025 hingga awal Januari 2026, tumpukan sampah terlihat di berbagai ruang publik, mulai dari kolong flyover Ciputat hingga trotoar kawasan Serpong. Kondisi tersebut memunculkan keluhan warga dan berkembang menjadi perbincangan luas di media sosial.

Fenomena ini tidak hanya terjadi di lapangan, tetapi juga tercermin dalam percakapan digital. Hasil pemantauan media monitoring menunjukkan lonjakan pemberitaan dan diskusi publik terkait isu sampah Tangsel dalam periode tersebut.

Krisis di TPA Cipeucang, Dampak Nyata di Ruang Publik

Mengutip pemberitaan Detiknews, Pemerintah Kota Tangerang Selatan melalui Dinas Lingkungan Hidup (DLH) menetapkan status tanggap darurat sampah selama 14 hari, terhitung sejak 23 Desember 2025 hingga 5 Januari 2026. Kebijakan ini diambil setelah sejumlah titik kota dipenuhi gunungan sampah yang menimbulkan bau menyengat dan mengganggu aktivitas warga.

Krisis ini dipicu oleh penutupan sementara Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Cipeucang yang tengah menjalani penataan konstruksi untuk mencegah longsor serta meningkatkan keamanan jangka panjang. Dampaknya, proses pengangkutan sampah terganggu dan penumpukan tak terhindarkan.

Warga dan pengendara melaporkan bau tidak sedap hingga kemacetan lalu lintas akibat sampah yang meluber ke badan jalan. Bahkan, kawasan strategis seperti sekitar Kantor DPRD Tangsel dan Puskesmas Serpong ikut terdampak, menandakan skala persoalan yang meluas.

Harga Social Media Monitoring & Social Media Listening - NoLimit Dashboard

Data Timbulan Sampah: Beban Infrastruktur yang Kian Berat

Berdasarkan dokumen resmi Pemerintah Kota Tangerang Selatan, timbulan sampah harian di Tangsel mencapai sekitar 1.022,65 ton, atau setara 373.267,45 ton per tahun. Sebanyak 77,41 persen berasal dari sampah rumah tangga, dengan dominasi sisa makanan (food waste).

Dalam beberapa tahun terakhir, kapasitas pengolahan mengalami penurunan akibat TPA Cipeucang yang telah melebihi daya tampung (over capacity). Ketimpangan antara volume sampah dan kapasitas pengolahan ini membuat sistem sangat rentan. Ketika satu elemen terganggu, dampaknya langsung terasa di ruang publik.

Instansi dan Kebijakan: Mencari Solusi Jangka Panjang

Menanggapi kondisi tersebut, Wali Kota Tangerang Selatan Benyamin Davnie menyatakan komitmen pemerintah daerah untuk memperkuat kolaborasi lintas wilayah. Salah satu langkah yang didorong adalah perluasan TPS3R (Reduce, Reuse, Recycle) dan penguatan bank sampah di tingkat kelurahan, guna menekan timbulan sampah sejak dari sumbernya.

Selain itu, Pemkot Tangsel juga menjajaki kerja sama regional dengan Kota dan Kabupaten Bogor untuk pengembangan fasilitas Pengelolaan Sampah Menjadi Energi Listrik (PSEL) di TPA Cipeucang. Proyek ini dirancang serupa dengan teknologi waste to energy yang telah diterapkan di sejumlah kota besar di Indonesia.

Keluhan Warga: Bau, Tidak Nyaman, dan Rasa Kecewa

Di lapangan, warga merasakan langsung dampak krisis sampah ini. Pantauan media menunjukkan tumpukan sampah menggunung di sepanjang Jalan Ir H Juanda (Ciputat) hingga kawasan Serpong, dengan bau menyengat yang mengganggu aktivitas sehari-hari.

“Bau sampahnya sangat tidak nyaman, sampai sulit tidur malam,” ujar seorang pedagang di sekitar flyover Ciputat. Warga lain menilai kondisi ini mencerminkan menurunnya kualitas lingkungan tempat tinggal mereka.

Keluhan juga ramai disuarakan di media sosial. Warga menyoroti minimnya tempat pembuangan sementara (TPS) di permukiman, serta menilai langkah pemerintah masih bersifat darurat, belum menyentuh solusi jangka panjang yang sistemik.

Sentimen Media Sosial: Dominasi Kritik Publik

Hasil analisis data percakapan dan social listening menunjukkan sentimen publik terhadap isu sampah Tangsel didominasi nada netral hingga negatif.

  • Negative Talk : Terdapat 1.800 pembicaraan bernada negatif. Ini menunjukkan bahwa isu sampah di Tangsel cenderung memicu keluhan atau sentimen buruk di masyarakat dibanding apresiasi.
  • Sentimen netral muncul dalam bentuk berbagi informasi lokasi penumpukan sampah dan pembaruan status darurat.
  • Positive Talk: Hanya sebagian kecil pembicaraan 186 (sekitar 1.2%) yang bernada positif.

Percakapan digital ini memperlihatkan berdasarkan data yang dihimpun dari platform sosial listeniing IndSight bahwa isu sampah Tangsel telah berkembang menjadi isu reputasi dan kepercayaan publik terhadap tata kelola kota.

Analisis: Persoalan Sistemik Kota Urban

Sejumlah pengamat menilai krisis sampah Tangsel mencerminkan tantangan kota urban modern. Persoalan tidak hanya terletak pada keterbatasan TPA atau armada angkut, tetapi juga pada pola konsumsi masyarakat dan kesiapan sistem pengelolaan limbah secara menyeluruh.

Tanpa perubahan perilaku, pemanfaatan data, serta perencanaan berbasis bukti, masalah serupa berpotensi terus berulang.

Krisis sampah di Tangerang Selatan pada akhir 2025 menjadi peringatan serius bagi kota-kota penyangga metropolitan.

Solusi jangka panjang membutuhkan kombinasi strategi, mulai dari penguatan infrastruktur, pemanfaatan teknologi, kolaborasi lintas daerah, hingga peningkatan kesadaran publik.

Dalam konteks tersebut, pemanfaatan data media monitoring dan social listening menjadi semakin penting. Melalui NoLimit Dashboard, instansi pemerintah, pelaku usaha, maupun pemangku kepentingan dapat memantau percakapan publik secara real-time, memahami sentimen masyarakat, serta merumuskan kebijakan berbasis data yang lebih presisi dan responsif.

NoLimit Indonesia - NoLimit Dashboard
Hiday