Sebanyak 75 pegawai KPK dinyatakan tidak lulus dalam tes wawasan kebangsaan. Tes ini oleh KPK dijadikan sebagai syarat peralihan status pegawai menjadi aparatur sipil negara atau pegawai negeri. Melalui Surat Keputusan Pimpinan KPK Nomor 652 Tahun 2021, akhirnya mereka pun dinonaktifkan. Dengan dinonaktifkannya 75 pegawai KPK ini, melalui SK Pimpinan KPK dinyatakan bahwa mereka diminta untuk menyerahkan tugas dan tanggung jawab kepada atasan masing-masing.

Polemik ini menyita perhatian warganet untuk membicarakannya di media sosial. Menggunakan Nolimit Dashboard, kami coba memonitor seperti apa polemik penonaktifan 75 pegawai KPK yang dinyatakan tidak lolos tes wawasan kebangsaan.

Selama periode 1 Mei – 20 Juni 2021, kami menemukan 628.780 percakapan terkait TWK KPK. Percakapan tertinggi terdapat di Twitter sebanyak 592.873, kedua terdapat di Instagram sebanyak 19.576, ketiga terdapat di Facebook sebanyak 16.089, dan terakhir terdapat di Youtube sebanyak 242. Selain itu kami pun menghimpun beberapa nama besar yang mengikuti perbincangan pada polemik ini.

Dari total percakapan selama periode tersebut kami membaginya dalam 7 isu tertinggi secara kronologis.

3 Mei, Pro-Kontra Isu Radikalisme dan Taliban di KPK.

Tidak lulusnya 75 pegawai KPK dalam TWK membuat isu radikalisme dan Taliban di KPK kembali mencuat. Terdapat sebanyak 12.875 percakapan dalam isu ini yang didominasi oleh sentiment netral. Sentimen negatif lebih tinggi dibanding positif.

Isu ini pun tidak terlepas dari perhatian media. terkiniid menjadi media pertama yang memberitakannya.

Pada sebuah acara TV nasional yakni Mata Najwa, isu ini juga dibicarakan. Perdebatan tentang keberadaan Taliban di kubu KPK di belakang layar acara Mata Najwa antara March Falentino, Penyidik KPK berhadapan dengan Kapitra Ampera, Politikus PDI Perjuangan menjadi most engaging post pada isu ini.

4 Mei, Pengumuman Hasil TWK KPK

pengumuman hasil TWK KPK yang membuahkan 75 pegawai tidak lulus dianggap menghambat penanganan kasus korupsi kelas kakap. Kasus korupsi besar seperti ekspor benur, bansos Covid 19, penyuapan komisioner KPU, dan lain-lain dinilai akan terhambat dengan tidak lulusnya 75 pegawai KPK pada TWK. Isu ini mencuat di media sosial dengan 4.881 percakapan yang didominasi oleh sentimen netral. Sentimen negatif lebih besar dibanding positif.

Walau pengumuman resmi TWK KPK baru dilaksanakan tanggal 5 Mei, namun sehari sebelumnya sudah santer diberitakan tentang isu ini. @KataBewe menjadi orang pertama yang memposting mengenai isu ini. Ia menilai dengan tidak lulusnya 75 pegawai KPK pada TWK membuat “pembusukan” di KPK semakin parah.

CNN Indonesia menjadi media yang pertama memberitakan tentang isu ini. Bahkan CNN memposting terkait isu ini dua hari sebelum pengumuman resmi dari KPK.

12 Mei, Novel Baswedan Memposting #BeraniJujurPecat

#BeraniJujurPecat yang merupakan satir untuk slogan KPK #BeraniJujurHebat. Terdapat sebanyak 47.395 percakapan mengenai isu ini di media sosial yang didominasi oleh sentimen netral. Sentimen positif lebih banyak dibanding negatif.

https://twitter.com/riaunewsmedia/status/1392409616252903426

17 Mei, Netizen Menanggapi Pernyataan Presiden Jokowi mengenai TWK

Terdapat sebanyak 1.745 percakapan di media sosial yang didominasi oleh sentimen netral. Sentimen negatif lebih banyak dibanding positif.

Terkait isu ini, Presiden Jokowi berpendapat bahwa hasil TWK KPK tidak serta merta dijadikan dasar untuk memberhentikan 75 pegawai KPK yang dinyatakan tidak lolos tes.

Detikcom menjadi media pertama yang memberitakan mengenai isu ini.

24 Mei, 75 Pegawai KPK yang Tak Lulus TWK :aporkan Pelanggaran HAM

Terdapat sebanyak 778 percakapan di media sosial yang didominasi sentiment netral. Sentimen negatif lebih banyak dibanding positif.

Laporan yang dilakukan 75 pegawai KPK yang tak lulus TWK menuai kritikkan. Salah satunya dari @bumnbersatu yang menjadi most engaging post pada isu ini.

CNNIndonesia menjadi media pertama yang memberitakan terkait isu ini.

24 Mei, Pro-Kontra Pemanggilan Pimpinan KPK

Pemanggilan Pimpinan KPK, Firli Bahuri oleh Komnas HAM. Terdapat sebanyak 1.128 percakapan di media sosial yang didominasi oleh sentimen netral. Sentimen positif lebih banyak dibanding negatif.

Dilansir dari OposisiCerdas, usai mangkir dari pemanggilan Komnas HAM, Ketua KPK Firli Bahuri mendapatkan kritikkan dari Febri Diansyah yang merupakan eks jubir KPK. Ia mempertanyakan apakah sikap Firli tersebut adalah contoh wawasan kebangsaan.

Jpnncom menjadi media pertama yang memberitakan terkait isu ini.

5 Juni, Film TheEndGame Released

Terdapat sebanyak 12.236 perbincangan di media sosial yang didominasi oleh sentimen netral. Sentimen negatif lebih banyak dibanding positif.

Film dokumenter theEndGame, bukan hanya bercerita tentang testimoni 16 pegawai KPK yang tidak lolos TWK, melainkan film tersebut ingin merekam sejarah upaya-upaya secara sistematis melemahkan KPK.

MajalahZamane menjadi media pertama yang memberitakan terkait isu ini.

Hingga saat ini, kasus polemik tidak lulusnya sejumlah pegawai KPK pada TWK masih berjalan. Apapun yang terjadi, tetaplah bijak dalam beropini di media sosial. Kebenaran akan menang!