Ada isu apa dibalik tagar #TolakLigaTanpaDegradasi? Wacana Liga 1 2021 tanpa degradasi menjadi pembicaraan hangat di internet. Dilansir dari tribunnews, wacana ini muncul dari hasil rapat Exco PSSI pada 3 Mei lalu. Ditambah dengan pernyataan Ketum PSSI, Mochamad Iriawan yang membenarkan wacana tersebut “Tanggal 3 Juli Liga 1 jalan dan kemungkinan tanggal 17 Liga 2 juga jalan. Cukup ketat kompetisinya meskipun tanpa degradasi ya,”  ucap pria yang lebih akrab disapa Iwan Bule, dikutip dari indosportcotcom.

Banyak pihak yang menolak wacana ini, termasuk pihak warganet. Merespon isu ini, warganet pencinta sepak bola nasional pun membuat gerakan #TolakLigaTanpaDegradasi. Dengan adanya gerakan ini, secara otomatis akan berpengaruh pada performa media sosial masing-masing klub. Menggunakan Nolimit Dashboard, kami coba memonitor sejauh mana pengaruh dari gerakan #TolakLigaTanpaDegradasi.

Perbincangan #TolakLigaTanpaDegradasi Memuncak pada 11 Mei 2021

Dengan menggunakan NoLimit Dashboard dan dilihat dari sisi day to day talk, dalam kurun waktu 1-21 Mei 2021, terdapat 683 percakapan #TolakLigaTanpaDegradasi dengan total warganet yang berbicara sebanyak 466. Puncaknya terdapat di Selasa (11/5), terdapat 110 percakapan dengan total warganet yang berbicara sebanyak 102.

Dilihat dari segi isu, berikut adalah 5 isu paling banyak dibicarakan terkait gerakan #TolakLigaTanpaDegradasi.

Dinilai sebagai Kebijakan yang Buruk

Warganet menilai bahwa liga tanpa degradasi adalah kebijakan yang buruk. Tingkat persaingan para peserta berpotensi akan mengalami penurunan. Tidak ada sesuatu yang mesti dipertahankan di tabel klasemen bila sebuah liga berjalan tanpa adanya degradasi


Isu Pengalihan dari Penerbitan Izin Liga

Warganet menginginkan wacana liga tanpa degradasi jangan sampai mengalihkan fokus PSSI dan pihak terkait untuk menerbitkan ijin pelaksanaan liga dari pihak kepolisian. Ditambah wacana liga tanpa degradasi, warganet menilai ini memungkinkan akan membagi fokus PSSI dan pihak terkait sebagai federasi yang mestinya fokus mengejar penerbitan ijin pelaksanaan liga.

Keinginan Netizen atas Sikap Jelas dari Klub

Warganet menginginkan sikap yang jelas dari klub kesayangan mereka untuk menanggapi kebijakan liga tanpa degradasi. Pernyataan resmi di media sosial menjadi penting sebagai bentuk sikap klub sepak bola menanggapi sebuah isu. Beberapa klub — seperti Persipura, Borneo FC, dan PS Sleman — melalui media sosialnya dengan tegas menolak wacana liga tanpa degradasi. Namun demikian, ada beberapa klub yang meskipun menolak namun tidak membuat postingan khusus mengenai wacana ini. Hal ini menimbulkan pertanyaan sehingga warganet menuntut sikap yang jelas dari klub lewat media sosialnya.

Rawan Matchfixing

Liga tanpa degradasi rawan matchfixing. Selain menurunnya tingkat persaingan, liga tanpa degradasi juga dinilai akan menghasilkan laga yang “diatur”. Hal ini bisa terjadi dikarenakan sebuah klub yang berposisi sebagai juru kunci klasemen, tidak lagi memiliki resiko turun ke liga kasta kedua.

Komposisi Tim yang Bagus Dirasa jadi Percuma

Kebijakan liga tanpa degradasi membuat tim dengan materi pemain dan pelatih bagus menjadi percuma. Skuat bertabur pelatih dan pemain bintang dianggap tak lagi prestisius. Jika memang liga akan berjalan tanpa degradasi, warganet berpendapat bahwa sebaiknya memaksimalkan pelatih dan pemain lokal saja.

Dilihat dari sisi postingan klub, postingan Persipura mengenai penolakan liga tanpa degradasi berada di posisi kedua dengan engagement rate 9,68%. Hal ini membuktikan bahwa sikap klub yang tegas dan jelas mengenai sebuah isu akan berpengaruh pada performa media sosial klub dan menjadi konten yang engaging.

Setelah membaca paparan di atas, jadi bagaimana menurut kalian tentang #TolakLigaTanpaDegradasi ? Apapun pendapat kalian, sampaikanlah dengan bijak. Panjang umur persepak bolaan nasional!

Baca juga artikel lainnya: